Kamis, 13 November 2014

Laporan KKL Botani Tumbuhan Tak Berpembuluh (Lumut, Lichen, Jamur) di Tahura R.Soeryo Cangar Batu Malang




LAPORAN KKL KEDUA
IDENTIFIKASI LUMUT, LICHEN DAN JAMUR DI TAHURA R.SOERYO CANGAR BATU JAWA TIMUR
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Botani Tumbuhan Tidak Berpembuluh
Dosen pembimbing:
Sulisetjono, M.Si
Ainun Nikmati Lily, M.Si



Anggota kelompok :
Lutfi Hakim Sudrajat (13620006)
Fista Nisaul Hikmah (13620043)
Aulia Nur Kumala Dewi (13620054)
Latifatul Qulbi (13620065)
Sayidah Ifadatul Ummah (13620075)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014


  


BAB I


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak keanekaragaman flora dan fauna lebih dari negara-negara yang lain. Dengan letak geografisnya yang mendukung, berbagai macam organisme dapat berhabitat di dalamnya. Kekayaan sumber daya alam juga mengindikasikan kekayaan hayatinya. Menurut Edawua (2011) kawasan hutan Indonesia umumnya merupakan hutan hujan tropis. Dan hutan hujan tropis terkenal dengan keanekaragaman flora termasuk di dalamnya jenis Bryophyta (lumut), jamur dan juga lichen.
Lumut merupakan jemis tumbuhan tidak berpembuluh yang tubuhnya berupa talus atautidak memiliki akar, batang dan daun yang sejati. Lichen merupakan bentuk simbisosis antara alga dan jamur. Sedangkan jamur merupakan tumbuhan talus yang umumnya berbentuk filament multiseluler, namun ada juga yang uniseluler (Birsyam, 1992).
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al An’am 6: 95
Yang artinya: “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”
Berdasarkan ayat terssebut telah jelas bahwa sebagai manusia yang beriman seharusnya kita dapat mempelajari dan mengambil hikmah dari setiap hal yang telah diciptakan Allah SWT. Salah satu contoh diciptakannya butir bitir tumbuhan, biji buah-buahan tersebut adalah adanya keanekaragaman tumbuhan yang memiliki sifat atau karakteristik berbeda-beda satu sama lainnya. Termasuk di dalamnya adalah lumut, lichen dan jamur. Ketiga tumbuhan tersebut berhabitat pada tempat yang lembab dan basah. Salah satu habitat yang sesuai untuk tumbuhnya tumbuhan tersebut adalah di Taman Hutan Raya R.Soeryo di Daerah Cangar Batu.
Taman Hutan Raya R.Soeryo merupakan hutan yang Topografi secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut. Taman Hutan Raya R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500- 4.500 mm per tahun dengan suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Di lokasi Taman Hutan Raya R.Soeryo juga memiliki kolam air panas dengan suhu 30ºC - 40ºC (Edawua, 2011). Dengan karakteristik hutan yang demikian, Taman Hutan Raya R.Soeryo merupakan habitat yang sesuai untuk ditumbuhi jenis-jenis tumbuhan lumut, lichen maupun jamur.
Berdasarkan hal-hal di atas maka dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sangatlah penting dilakukan karena  merupakan suatu kegiatan untuk menunjang sistem perkuliahan, selain itu diadakannya KKL juga sangat membantu untuk mahasiswa memahani topik yang di praktikumkan, dan tidak hanya didapatkan di kelas saja, selain itu juga kegiatan KKL membantu mahasiswa untuk lebih mengetahui makhluk hidup yang ada disuatu tenpat dengan mengetahui tempat hidupnya, dan bagaimana dia mendapatkan makanan, dan lain sebagainya.
1.2  Tujuan
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini bertujuan untuk:
1.      Mengidentifikasi jenis-jenis Lumut, Lichen, dan Jamur yang ada di kawasan Taman Hutan Raya R.Soeryo
2.      Studi lapangan keanekaragaman jenis-jenis Lumut, Lichen, dan Jamur yang berhabitat di Taman Hutan Raya R.Soeryo
1.3  Manfaat
Manfaat diadakannya Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis jamur, lumut, dan lichen yang ada di kawasan Taman Hutan Raya R.Soeryo
2.      Mahasiswa lebih mengenal jamur, lumut dan lichen secara langsung di habitatnya.
3.      Mahasiswa lebih mengetahui ekosistem Taman Hutan Raya R.Soeryo dan berbagai jenis tumbuhan yang ada didalamnya.


BAB II
DASAR TEORI
2.1    Taman Hutan Raya R.Soeryo
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, setelah Brazil. Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman tumbuhan, tetapi masih banyak yang belum terungkap secara ilmiah. Hal ini dikarenakan derasnya pemanenan sumberdaya hayati, khususnya penebangan ekosistem hutan dengan berbagai alasan, besar kemungkinan bahwa keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan ini tererosi, bahkan terancam punah. Dan Kawasan hutan Indonesia umumnya merupakan hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis terkenal dengan keanekaragaman flora (Edawua,2011).
Taman Hutan Raya R.Soeryo merupakan salah satu hutan hujan tropis dan merupakan hutan yang Topografi secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut. Taman Hutan Raya R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500- 4.500 mm per tahun dengan suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Di lokasi Taman Hutan Raya R.Soeryo juga memiliki kolam air panas dengan suhu 30ºC - 40ºC. Sehingga sesuai dengan habitat yang dibutuhkan tumbuhan lumut,  lichen dan jamur (Edawua, 2011).

2.2    Pengertian Lumut
Daerah pegunungan atau batu-batuan yang ada di sungai atau di tembok-tembok di dekat sumur rumah kalian sering kalian temukan tumbuhan yang berwarna hijau, hidup menempel. Tumbuhan tersebut adalah Bryophyta (tumbuhan lumut). Bryophyta berasal dari bahasa Yunani, kata bryum yang berarti lumutdan phyta artinya adalah tumbuhan (Tjitrosoepomo, 1989).
            Tumbuhan Lumut (Bryophyta) merupakan tumbuhan yang relatif kecil, tubuhnya hanya beberapa milimeter saja, bahkan ada yang tingginya hanya beberapa milimeter saja. Hampir semua jenis tumbuhan lumut sudah merupakan tumbuhan darat (terrestrial), walaupun kebanyakan dari tumbuhan ini masih menyukai tempat - tempat yang basah  (Tjitrosoepomo, 1989).
            Tumbuhan lumut adalah golongan tumbuhan tingkat rendah yang filogenetiknya lebih tinggi daripada golongan algae karena dalam susunan tubuhnya sudah ada penyesuaian diri terhadap lingkungan hidup di darat, gametangium dan sporangiumnya multiseluler, dan dalam perkembangan sporofitnya sudah membentuk embrio. Meskipun tumbuhan lumut hidup di darat tetapi untuk terjadinya pembuahan masih tetap memerlukan air, hingga tumbuhan lumut disebut sebagai tumbuhan amfibi. Bentuk dan susunan gametangium yang spesifik pada tumbuhan lumut ialah terutama pada arkegonium yang berbentuk seperti botol dan terdiri atas bagian perut dan bagian leher, sehingga tumbuhan lumut termasuk golongan Archegoniata. Berhubung dalam perkembangan sporofitnya tumbuhan lumut membentuk embrio, dan untuk terjadinya pembuahan gamet jantan mencapai sel telur tanpa harus melalui "siphon", maka tumbuhan lumut tergolong Embriophyta asiphonogama (Tjitrosoepomo, 1989).
            Dalam siklus hidup yang normal generasi haploid ( gametofit ) dan generasi diploid (sporofit) bergiliran secara teratur. Penyimpangan dari siklus hidup yang normal dapat mengakibatkan peristiwa apogami dan apospori. Sporofit yang terjadi karena peristiwa apogami adalah haploid, sebaliknya gametofit yang terjadi karena peristiwa apospori adalah diploid dan menghasilkan gamet yang diploid pula (Tjitrosoepomo, 1989)
2.2.1 Karateristik Bryophytha
Karateristik umum tubuh lumut sebagai berikut (Campbell, 2000):
Ø  Sel - sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa. 
Ø  Daun lumut umumnya setebal satu lapis sel, kecuali ibu tulang daun, lebih dari satu lapis sel. Sel - sel daun kecil, sempit, panjang, dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti jala. Di antaranya terdapat sel - sel mati yang besar - besar dengan penebalan dinding dalamnya berbentuk spiral. Sel - sel yang mati ini berguna sebagai tempat persediaan air dan cadangan makanan. 
Ø  Pada tumbuhan lumut hanya terdapat pertumbuhan memanjang dan tidak ada pertumbuhan membesar. Pada ujung batang terdapat titk tumbuh dengan sebuah sel pemula di puncaknya. Sel pemula itu biasanya berbentuk bidan empat ( tetrader = kerucut terbalik ) dan membentuk sel - sel baru ke tiga arah menurut sisinya. Ukuran lumut yang terbatas mungkin disebabkan tidak adanya sel berdinding sekunder yang berfungsi sebagai jaringan penyokong seperti pada tumbuhan berpembuluh.
Ø  Rizoid tampak seperti rambut atau benang - benang. Berfungsi sebagai akar untuk melekat pada tempat tumbuhnya dan menyerap air serta garam - garam mineral (makanan). Rizoid terdiri dari satu deret sel yang memanjang kadang - kadang dengan sekat yang tidak sempurna. 
Ø  Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof
Ø  Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai epifit. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifit maka hutan demikian disebut hutan lumut.
Ø  Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).
Ø  Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupakan Gerak Kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur.
Ø  Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).
Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu (Campbell, 2000):
a.       Alat kelamin jantan Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid
b.      Alat kelamin betina disebut Arkegonium yang  menghasilkan Ovum
Struktur sporofit (sporangium) tubuh lumut terdiri atas (Campbell, 2000):
1. Vaginula yaitu kaki yang diselubungi sisa dinding arkegonium.
2. Seta atau tangkai.                                                  
3. Apofisis yaitu ujung seta yang agak melebar yang merupakan peralihan
    antara seta dengan kotak spora
4. Kaliptra atau tudung berasal dari dinding arkegonium atas menjadi kotak spora.
5. Kolumela
2.2.2 Habitat Lumut
            Lumut ditemukan terutama di area sedikit cahaya / ringan dan lembab. Lumut umum di area berpohon-pohon dan di tepi arus. Lumut juga ditemukan di batu, jalan di kota besar. Beberapa bentuk mempunyai menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi ditemukannya. Beberapa jenis dengan air, seperti Fontinalisantipyretica, dan Sphagnum tinggal / menghuni rawa (Tjitrosoepomo, 1989).  
2.2.3 Klasifikasi Lumut
            Pembagian klasifikasi Bryophyta yang pertama menurut Tjitrosoepomo (1989) didasarkan atas perbedaan bentuk susunan tubuhnya dan perkembangan gametangium serta sporogoniumnya, dibagi menjadi dua kelas yaitu Hepaticae dan Musci. Dan menurut Setyawan (2001), penjelasan kelas tersebut sebagai berikut:
Lumut sejati juga disebut dengan lumut daun atau bryopsida.Kurang lebih terdapat 12.000 jenis lumut daun yang ada di alam ini.Lumut daun dapat tumbuh di tanah-tanah gundul yang secara periodik mengalami kekeringan, di atas pasir bergerak, di antara rumput-rumput, di atas batu cadas, batang pohon, di rawa-rawa, dan sedikit yang terdapat di dalam air.Di daerah kering, badan lumut ini dapat berbentuk seperti bantalan, sedangkan yang hidup di tanah hutan dapat berbentuk seperti lapisan permadani.Lumut di daerah lahan gambut dapat menutupi tanah sampai beribu kilometer (Setyawan, 2001).
Lumut ini hampir tidak pernah mengisap air dari dalam tanah, tetapi justru banyak melindungi tanah dari penguapan air yang terlalu besar. Lumut daun merupakan tumbuhan yang berdiri tegak, kecil, dan letak daunnya tersusun teratur mengelilingi tangkainya seperti spiral. Pada tempat yang sesuai, spora akan berkecambah membentuk protonema. Protonema ini terdiri atas benang berwarna hijau, fototrof, bercabang-cabang, dan dapat dilihat dengan mata biasa karena mirip seperti hifa cendawan (Setyawan, 2001).
Pada lumut daun, kapsul sporanya memiliki kolumela yang terletak di tengah dan dikelilingi oleh ruang yang berisi spora. Pada sporogonium muda, ruang sporanya diselimuti oleh jaringan asimilasi dan dibatasi oleh epidermis dari udara luar. Kolumela inilah yang berfungsi sebagai pemberi makanan dan penyimpan air bagi spora yang baru terbentuk. Di bawah kapsul spora terdapat mulut kulit. Susunan kapsul yang telah masak sangat khusus (Setyawan, 2001).
             Anthocerotales (lumut tanduk) biasa hidup melekat di atas tanah dengan perantara rizoidnya. Lumut tanduk mempunyai talus yang sederhana dan hanya memiliki satu kloroplas pada tiap selnya. Pada bagian bawah talus terdapat stoma dengan dua sel penutup. Lumut tanduk juga mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) ketika fase sporofit dan fase gametofit terjadi secara bergiliran. Susunan sporogonium lumut tanduk lebih rumit jika dibandingkan dengan lumut hati lainnya. Gametofitnya mempunyai cakram dan tepi bertoreh. Sepanjang poros bujurnya terdapat sederetan sel mandul yang disebut kolumela. Kulomela dilindungi oleh arkespora penghasil spora. Dalam askespora, selain spora, juga dihasilkan sel mandul yang disebut elatera. Tidak seperti lumut hati lainnya, masaknya kapsul spora pada sporogonium lumut tanduk tidak bersamaan, tetapi berurutan dari bagian atas sampai pada bagian bawah. Contoh lumut tanduk adalah Anthoceros laevis, A. fusifermis, dan Notothulus valvata (Setyawan, 2001).
            Lumut hati biasa hidup di tempat yang basah sehingga tubuhnya berstruktur higromorf. Ada juga yang hidup di tempat-tempat yang sangat kering, seperti di kulit pohon, di atas tanah, atau batu cadas sehingga tubuhnya berstruktur xeromorf. Di dalam tubuh lumut terdapat alat penyimpan air sehingga dalam keadaan kekeringan tidak mengakibatkan lumut mati. Lumut hati merupakan tumbuhan penutup tanah yang daunnya berbentuk lembaran-lembaran yang berkelok di bagian pinggirnya, memiliki semacam akar yang tumbuh dari permukaan bawah tumbuhan hidup di tempat yang lembap, dan tidak terkena cahaya matahari. Protonema lumut hati kebanyakan hanya berkembang menjadi suatu buluh pendek dan sebagian besar lumut hati memiliki sel yang mengandung minyak astri (Setyawan, 2001).
Lumut hati dapat berkembang biak secara aseksual dengan pembentukan kuncup atau gemma dan secara seksual dengan pembentukan anteridium penghasil sperma dan pembentukan arkegonium penghasil ovum. Lumut hati juga mengalami pergiliran keturunan(metagenesis)(Campbell,2000).
Pada dasarnya terdapat kloroplas dan tempat berlangsungnya fotosintesis. Cadangan makanan ditimbun pada jaringan talus yang tidak mengandung klorofil. Perkembangbiakan secara aseksual pada gametofit dilakukan dengan pembentukan ku cup-kuncup eram. Gametangium Marchantiales berupa cabang talus yang berdiri tegak, bagian bawah cabang menggulung, dan dalam gulungan tersebut terdapat rizoid. Bagian atas cabang bercabang menggarpu dan akhirnya membentuk badan menyerupai bintang (Setyawan, 2001).
Anteridium dan arkegonium terletak pada tempat terpisah. Pendukung anteridium disebut anteridiofor, berbentuk menyerupai tangkai dengan cakram bertoreh delapan pada ujungnya, dan di atas cakram terdapat ruangan mirip botol yang bermuara ke atas. Ruanganruangan ini berisi anteridium. Antar ruangan dipisahkan oleh jaringan yang mengandung ruang udara. Spermatozoid dihasilkan di dalam anteridium. Jika antheridium telah masak, sel dindingnya akan menjadi lendir dan mengembang hingga akhirnya spermatozoid akan keluar dan terkumpul dalam suatu tetes air hujan yang terletak di atas anteridiofor (Setyawan, 2001).
Sel telur diproduksi di dalam arkegonium. Pembuahan terjadi pada musim hujan. Pada saat itu, percikan air hujan yang mengandung spermatozoid terlempar dari anteridiofor ke arkegoniofor. Hasil pembuahan berupa zigot yang akan berkembang menjadi embrio bersel banyak akhirnya membentuk sporogonium bertangkai pendek, kecil, berbentuk bulat, dan berwarna hijau. Sel teratas membentuk kapsul spora dan sel bawah membentuk tangkai dan kaki sporogonium. Kapsul spora Marchantiales dapat menghasilkan beratus ribu spora. Jika jatuh di tempat yang sesuai, spora ini akan berkecambah membentuk protonema dan seterusnya. Contoh lumut yang termasuk suku Marchantiaceae adalah Marchantia polymorpha, M. geminata, dan Reboulia hemisphaerica, sedangkan yang termasuk suku Ricciaceae adalah Riccia fluitans, R. nutans, dan R. Trichocarpa (Setyawan, 2001).
2.2.4  Reproduksi Lumut
Reproduksi lumut bergantian antara seksual dan aseksualnya. Reproduksi aseksualnya dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit, sedangkan reproduksi seksualnya dengan membentuk gamet - gamet. Baik gamet jantan maupun gamet betina yang dibentuk dalam gametofit. Ada 2 macam gametangium, yaitu sebagai berikut (Campbell, 2000):
1.      Arkegonium adalah gametangium betina yang bentuknya seperti botol dengan bagian lebar yang disebut perut; bagian yang sempit disebut leher. Keduanya mempunyai dinding yang tersusun atas selapis sel. Di atas perut terdapat saluran leher dan satu sel induk yang besar; sel ini membelah menghasilkan sel telur.
2.      Anteridium adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat seperti gada. Dinding anteridium terdiri dari selapis sel - sel yang mandul dan di dalamnya terdapat sejumlah besar sel induk spermatozoid - spermatozoid yang bentuknya seperti spiral pendek; sebagian besar terdiri dari inti dan bagian depannya terdapat dua bulu cambuk. Reproduksi aseksual dan seksual berlangsung secara bergantian melalui suatu pergiliran keturunan yang disebut metagenesis. Metagenesis berlangsung seperti pada skema. Jika anteridium dan arkegonium terdapat dalam satu individu, tumbuhan lumut disebut berumah satu (monoesis) dan jika dalam satu individu hanya terdapat anteridium atau arkegonium saja disebut berumah dua (diesis)
2.3 Liken (Lichens)
Liken merupakan organisme hasil simbiosis anatar jamur Ascomycotina atau Basidiomycotina dengan ganggang hijau atang ganggang biru-hijau. Bentuk simbiosis tersebut memungkinkan jamur memperoleh makanan dari hasil fotosintesis ganggang, sedangkan ganggang memperoleh air dan mineral dari jamur (Kimball, 1999).
Reproduksi liken tidak dapat dilakukan secara seksual (generative). Liken hanya bereproduksi secara aseksual (Vegetatif) melaui fragmentasi. Pada proses reproduksi tersebut liken melepas fragmen-fragmen kecil yang disebut soredia. Soredia adalh unit reproduksi berupa sel ganggang yang terbungkus dengan hifa jamur. Selanjutnya, soredia (tunggal=soredium) tersebut tersebar dan dapat tumbuh membentuk talus yang baru pada tempat yang sesuai (Kimball, 1999).
Beberapa contoh liken adalah sebagai berikut (Kimball, 1999):
1)        Parmelia, hidupnya menempel pada batang pohon, dan berwarna abu-abu.
2)        Graphis, hidupnya menempel pada batang-batang pohon, berbentuk seperti coretan garis kecil-kecil.
3)        Usnea dasifoga (lumut janggut), bentuknya mirip tumbuhan tingkat tinggi dan banyak ditemukan pada pohon di daerah pegunungan. jenis ini dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan.
2.4 Jamur (Fungi)
Fungi atau Cendawan adalah organisme Heterotrofik, mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut mereka disebut saprofit. Saprofit menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yang kemudian dikembalikan kedalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya. Jadi mereka dapat sangat menguntungkan bagi manusia. Sebaliknya mereka juga dapat merugikan kita bilamana mereka membusukkan kayu, tekstil, makanan dan bahan-bahan lain (Hackle, 1999).
Cendawa saprofit juga penting dalam fermentasi industri, misalnya pembuatan bir, minuman anggur, dan produk anti biotik seperti pinisilin. Peragian adonan dan pemasakan beberapa keju juga tergantung kepada kegiatan cendawan (Hackle, 1999).
Beberapa Fungi, meskipun saprofitik, dapat juga menerbu inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur disitu sebagai parasit. Sebagai parasit, mereka menimbulkan penyakit pada tumbuhan dan hewan, termasuk manusia (Hackle, 1999).
Cara memperoleh nutrien yang absorptif menjadikan Fungi terspesialisasi sebagai pengurai(saproba), parasit atau simbion-simbion mutualistik. Fungi Saprobik menyerap zat-zat makanan dari bahan organik yang sudah mati, seperti pohon yang sudah tumpang, bangkai hewan, atau buangan organisme hidup. Di dalam proses nutrisi saprobik ini, fungi menguraikan bahan organik tersebut. Fungi Parasitik menyerap zat-zat makanan dari sel-sel inang yang masih hidup. Beberapa jenis fungi parasitik, misalnya seperti spesies tertentu yang menginfeksi paru-paru manusia, bersifat patogenik. Fungi Mutualistik juga menyerap zat makanan dari organisme inang, akan tetapi fungi tersebut membalasnya dengan fungi yang menguntungkan bagi pasangannya dalam hal tertentu, misalnya membantu suatu tumbuhan di dalam proses pengambilan mineral dari tanah (Hackle, 1999).
Fungi menempati lingkungan yang sangat beraneka ragam dan berasosiasi secara simbiotik dengan banyak oganisme. Meskipun paling sering ditemukan di habitat darat, beberapa fungi hidup di lingkungan akuatik, di mana fungi tersebut berasosiasi dengan organisme laut dan air-tawar serta dengan bangkainya. Lichen, perpaduan simbiotik antara fungi dan alga, banyak terdapat dimana-mana dan ditemukan di beberapa habitat yang sangat tidak bersahabatdi Bumi ini: gunung yang kering dan di Antartika, tundra alpin dan arktik. Fungi simbiotik lainnyahidup di dalam jaringan tumbuhanyang sehat, dan spesies lain membentuk mutualisme-mutualisme pengkonsumsi-selulosa dengan serangga, semut dan rayap (Ciremai, 2008).
Jamur hidup tersebar dan terdapat ditanah, air vegetasi, badanhewan, makanan, di bangun, bahkan pada tubuh manusia.Jamur dapat tumbuh dan berkembang pada kelembaban dan pada suhu yang tinggi.Saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 4.250 sampai 12.000 jenis jamur.Dari jumlah tersebut dalam kehidupan memiliki peran masing-masing di habitatnya baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung bagi manusia (Hackle, 1999).
2.4.1 Ciri-ciri Jamur
Organisme yang termasuk dalam kelompok jamur, anggotanya mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut (Kimball, 1999):
a.       Uniseluler (bersel satu) atau multi seluler (benang-benang halus), tubuhnya tersususn atas hifa (jalinan benang-benang halus);
b.      Eukaryotik (mempunyai membrane inti);
c.       Tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, yaitu secara saproftik, parastik, dan simbiosis;
d.      Dinding selnya tersusun atas zat kitin;
e.       Cadangan makanan tersimpan dalam bentuk glikogen danprotein;
f.       Pencernannya berlangsung secara ekstraseluler, di mana makanan sebelum diserap disederhanakan terlebih dahulu oleh enzim extraseluler yang dikeluarkan dari hifa jamur;
g.      Memiliki keturunan yang bersifat haplopid lebih singkat;
h.      Reproduksi jamur uniseluler dilakukan secara aseksual dengan membentuk spora. Jamur multiseluler secara aseksual dengan cara memutuskan benang hifa (fragmentasi), membentuk zoozpora, endospora, dan konodia. sedanghkan secara seksual melalui peleburan inti jantan dan inti betina sehingga dihasilkan spora askus atau basidium.
2.4.2        Reproduksi Jamur
Bagian terbesar suatu kapang secara potensial mampu untuk tumbuh dan berkembang biak. Inokulasi fragmen yang kecil sekali pada medium sudah cukup untuk memulai individu baru. Hal ini diperoleh dengan menanamkan inokulum pada medium segar dengan bantuan jarum transfer, suatu cara yang serupa dengan yang digunakan untuk bakteri. Bedanya ialah bahwa jarum yang dipakai untuk kapang itu lebih kaku dan ujungnya pipih agar dapat memotong miselium (Kimball, 1999).
Secara alamiah cendawan berkembang biak dengan berbagai cara, baik secara aseksual dengan pembelahan, penguncupan, atau pembentukan spora, dapat pula dengan seksual dengan peleburan nukleus dari dua sel induknya. Pada pembelahan, suatu sel membagi diri untuk membentuk dua sel anak yang serupa. Pada penguncupan, semua sel anak tumbuh dari penonjolan kecilpada sel inangnya (Hackle, 1999).
Spora aseksual, yang berfungsi untuk menyebarkan spesiesdibentuk dalam jumlah besar. Macam spora aseksual (Tjitrosoepomo, 1983):
a.           Konidiospora atau konidium. Konidium yang kecil dan bersel satu disebut mikrokonidium. Konidium yang besar lagi bersel banyakdinamakan makromonodium. Konidium dibentuk di ujung atau di sisi suatu hifa.
b.           Sporangiospora. Spora bersel satu ini terbentuk di dalam kantung yang disebut sporangium di ujung hifa khusus(sporangiosfor). Aplanospora adalah sporangiospora nonmotil. Zoospora ialah sporangiospora yang motil, motilitasnya disebabkan oleh adanya flagelum.
c.           Oidium atau artrospora. Spora bersel satu ini terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa.
d.          Klamidospora. Spora bersel satu yang berdinding tebal ini sangat resisten terhadap keadaan yang buruk, terbentuk dari sel-sel hifasomatik.
e.           Blastospora. Tunas atau kuncup pada sel-sel khamir disebut blastospora.
Spora seksual, yang dihasilkan daripeleburan dua nukleus, terbentuk lebih jarang, lebih kemudian, dan dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan spora aseksual. Juga, hanya terbentuk dalam keadaan tertentu. Ada beberapa tipe spora seksual (Ariyanto, 2000):
a.          Askospora. Spora bersel satu ini terbentuk di dalam pundi atau kantung yang dinamakan askus. Biasanya terdapat delapan askospora di dalam setiap askus.
b.         Basidiospora. Sporabersel satu ini terbentuk diatas strukturberbentuk ganda yang dinamakan basidium.
c.          Zigospora. Zigospora adalah spora besar berdinding tebal yang terbentuk apabila ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi, disebut juga gametangia, pada beberapa cendawan melebur.
d.         Oospora. Spora ini terbentuk dalam struktur betina khusus yang disebut oogonium. Pembuahan telur, atau oosfer, oleh gamet jantanyang terbentuk di dalam anteredium menghasilkan oospora. Dalam setiap oogonium dapat ada satu atau beberapa oosfer.
e.          Spora aseksual dan seksual dapat dikitari oleh struktur pelindung  yang  sangat terorganisasi yang disebut tubuh buah. Tubuh buah aseksual diantaranya ialah aservulus dan piknidium. Tubuh buah seksual yang umum disebut peritesium dan apotesium (Kimball, 1999).
2.4.3 Klasifikasi Jamur
Berdasarkan cara reproduksi secara generatif, jamur dapat dibagi menjadi 4 kelas, yaitu Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deutromycotina (Kimball, 1999):


a.    Zygomycotina
Jamur kelompok ini namanya Zygomycotinakaren dalam reproduksi generatifnya menghasilkan zigot di dalamzigospora. Jmaur Zygomycotina mempunyai cirri-ciri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, multiseluler, hifa tidak bersekat, mengandung inti haploid, memiliki keturunan diploid lebihsingkat,reproduksi vegetative dengan membentuk spora, reproduksi generative dengan konjugasi yang menghasilkan zigospora.
Perkembangan secara seksual terjadi karena ada 2 macam hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Keduanya bias terdapat pada satu talus atau talus yang berbeda. Anggota kelas Zygomycotina antara lain : Rhizopusoryzae, Rhizopus oligosporus, Rhizopus nigricans, Mucor mucedo, Mucor javanicans, dan Clamydomucor oryzae.
b.   Ascomycotina
Jamur kelompok ini di sebut Ascomycotania, karena dalam reproduksi generatifnya menghasilkan askospora. Jamur ini yang termasuk kelas Ascomycotania mempunyai cirri-ciri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, uniseluler dan multiseluler, hifa bersekat, membentuk badan buah yang disebut askokrap, memiliki inti haploid, memiliki keturunan dipoloid lebih singkat, reproduksi vegetatifnya dengan membentuk konidiospora, reproduksi generatifnya dengan konjugasi yang menghasilkan askospora. Spesies-spesies anggotakelas Ascomycotina ialah sebagai berikut (Kimball, 1999):
1)           Sacchormyces cerviciae, jamur unisel yang dapat membelah diri, dapt memfermentasikan gula menjadi alcohol sehingga sering digunakan untuk membuat tape maupun roti.
2)           Sacharomyces ellipsoids, Saccharomyces tuac, Penicillium notatum, Penecillium chrysogenum, Penecillium camemberti, Penecillium requeforti, Aspergillus
3)           wentii, Aspergellus flavus, dan Aspergillus roti.


c.         Basidiomycotina
Jamur kelompok ini disebut Basidiomycotina karena dalam reproduksi generatifnya menghasilkan basidiofora. Jamur yang termasuk kelas Basidiomycotina mempunyai cirri-ciri yaitu dinding selnya tersusun atus zat kitin,multiseluler, hifa bersekat, dibedakan hifa primer (berinti satu) dan sekunder (berinti dua), mengandung inti haploid, memiliki keturunan diploid lebih singkat, membentuk badan buah yang disebut basidikrop, reproduksi vegetative dengan membentuk kondiospora, reproduksi generative dengan menghasilkan basidopora.
Spesies-spesies anggota dari kelas Basidiomycotina antara lain sebagai berikut: Volvoriella volvace (jamur merang), Auricularia polytricha (jamur kuping), Pleurotus (jamur tiram), Amanita phalloides, Amanita Verna, Amanita muscarnia, Amanita caesarnia, Puccinia graminus (jamur api).
d.        Deuteromycotina
Jamur kelompok ini disebut jamur imperfecti (jamur tidak sempurna) atau deuteromycotina karena belum diketahui cara perkembang biakan seksualnya. Namun demikian, untuk memudahkan dan karena tingkat konidiumnya begitu jelas dan tidak asing lagi, banyak spesies yang masih dianggapkipun tingkat seksualnya sekarangtelah diketahui dengan baik.
Sebagian besar cendawan yang patogen pada manusia adalah Deuteromycetes. Mereka sering kali membentuk spora aseksual beberapa macam di dalam spesies yang sama, sehingga dapat membantu dalam mengidentifikasikannyadi laboratorium. Jamur yang termasuk kelas Deuteromycotina mempunyai cirri-ciri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, multiseluler, hifa bersekat, dibedakan tipe hifa Primer (berinti satu) dan sekunder (berinti dua), mengandung inti haploid, Memiliki keturunan diploid lebih singkat, dan reproduksi vegetative dengan membentuk konidiospora. Contoh spesies dari kelas Deuteromycotina antara lain sebagai berikut (Kimball, 1999):
1)        Microsporium audoini, Trichophyton, dan Epidermophyton penyebab penyakit kurap dan panu.
2)        Epidermophyton floocosum penyebab penyakit kaki atlet.
3)        Scelothium rolfsii penyebab penyakit busuk pada tanaman.
4)        Helmintorosporium oryzae perusak kecambah dan buah.
2.4.4 Peranan Jamur
Jamur sangat berperan dalam kehidupan manusia.Sebagian jenis jamur ada yang dapat dimakan sebagai sumber protein, lemak, dan glikogen. Beberapa jenis lainnya dapat dimanfaatkan dalam industry makanan dan minuman dengan melalui proses fermentasi. Di dalam ekosistem, jamur sangat berguna sebagai organisme decomposer (pengurai).jamur bersama bakteri berperan dalam menguraikan sampah organic hingga menjadi bentuk sederhana. Namun, beberapa jenis jamur ada yang dapat menyebabkan penyakit, baik pada tumbuhan, hewan, maupun manusia.Akibat serangan jamur, tidak sedikit kerugian yang ditimbulkannya terhadap hasil pertanian.
Peranan jamur dalam kehidupan (Kimball, 1999):
a.    Menguntungkan:
1)        Bidang industri makanan dan minuman :
a)        Rhizopus oryzae, jamur pada tempe
b)        Saccharomyces cerevisiae, pada tape, alkhohol dan roti
c)        Saccharomyces ovale, pada tape, alkohol dan roti.
d)       Saccharomyces sake, jamur pada sake
e)        Aspergillus wentii, pada pembuatan kecap
f)         Aspergillus oryzae, untuk tape
g)        Penicellium camemberti, untuk peembuatan keju
h)        Penicellium roqueforti, untuk pembuatan keju
i)          Volvariela volvacea, jamur merang.
2)        Bidang kedokteran :
a)        Penicellium notatum, untuk antibiotik
b)        Penicellium chrysogenum, untuk antibiotik
3)        Bidang pertanian :
a)        Jamur membantu mengembalikan kesuburan tanah , sebagai organisme pengurai.
b).    Merugikan:
a)        Pada manusia: Aspergillus nidulans, Aspergillus niger. Keduanya menyebabkan penyakit pada telinga (otomikosis).Deuteromycetes, menyebabkan penyakit kulit (dermatomikosis).
b)        Pada hewan : Aspergillus fumigatus, menyebabkan penyakit paru-paru burung (aspergilosis)
c)        Pada tanaman : Phytophthora infestan, penyakit pada kentang.Phytophthora nicotianae, penyakit pada tembakau.Phytophthora faberi, penyakit pada karet.
d)       Jamur penghasil racun:
1.      Aspergillus flavus, penghasil racun oflaktoksin.
2.      Amanita phaloides, penghasil racun falin, dapat merusak sel darah     merah.



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1    Waktu dan Tempat
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Mata Kuliah Botani Tumbuhan Tidak Berpembuluh tentang lumut, lichen dan jamur ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 9 November 2014. Pengamatan dimulai pukul 10.00 – 12.00 WIB. Pengamatan ini dilaksanakan di Taman Hutan Raya R.Soeryo Daerah Cangar Batu Malang.
3.2    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada pengamtan ini adalah sebagai berikut:
1.      Alat Tulis                                 1 set
2.      Buku Catatan                          1 buah
3.      Buku literature                        1 buah
4.      Penggaris                                 1 buah
5.      Kamera                                    1 buah
6.      Kantong plastik                       secukupnya
3.3    Cara Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan pada saat pengamatan adalah:
1.      Dicari lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan menusuri jalan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R.Soeryo Cangar Batu Malang.
2.      Diambil gambar lichen, lumut (bryophyta), dan jamur (fungi) dengan kamera digital pada setiap spesies yang ditemukan.
3.      Dimasukkan hasil temuan ke dalam kantong plastik (cuma beberapa saja, demi menjaga kelestarian).
4.      Dilakukan pengamatan pada spesies yang telah ditemukan dan dicatat ciri-cirinya
5.      Dibedakan berdasarkan spesies masing-masing, diklasifikasi kemudian dideskripsikan.
6.      Dibagi spesies yang berbeda pada setiap kelompok untuk dibahas di dalam laporan hasil studi lapangan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Lumut Hati (Hepaticopsida)
4.1.1 Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Gambar Pengamatan

 sumber: kade, 2013




4.1.2 Pembahasan
Klasifikasi spesies ini adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi       : Thallophyta
Sub Divisi: Bryophyta
Classis      : Hepaticopsida     
Ordo        : Marchantiales
Familia     : Marchantiaceae
Genus      : Marchantia
Species     :Marchantia sp
    
Pengamatan yang telah dilaksanakan dalam KKL di cangar mengenai lumut, telah ditemukan adanya lumut hati. spesies yang kami temukan ini adalah Marchantia polymorpha yakni dengan ciri-ciri sebagai berikut: spesies Marchantia polymorpha ini, di temukan di tempat yang lembab di daerah sekitar hutan cangar dan hidup menempel pada bebatuan dan juga tanah yang sedikit berair (lembab) selain itu hidupnya saling berdempetan antara spesies satu dengan spesies yang lain. Pada Marchantia  sp mempunyai bagian-bagian antara lain yaitu gamae yang berfungsi sebagai tempat tumbuhnya arkegonium dan anteredium, namun organ reproduksinya ini terpisah, yakni dalam satu spesies tidak mepunyai anteredium dan arkegonium, melainkan dalam satu spesies kadang hanya memiliki anteredium ataupun arkegonium saja, selain memiliki arkegonium dan anteredium, Marchantia sp  juga mempunyai talus berbentuk lembaran seperti daun kecil, dan juga memiliki rizhoid, yang berfungsi sebagai  tempat menempelnya pada substrat tertentu.
Bagian bawah pada spesies ini terdapat rizoid yang digunakan untuk menempel dan mengisap air dan mineral, tidak berbatang dan berdaun. Reproduksi vegetatif dengan membentuk gemma atau kuncup. Sementara itu, reproduksi generatif dengan membentuk gamet. Organ pembentuk gamet jantan (antheridium) dan organ pembentuk gamet betina (archegonium) terpisah pada lembaran berbeda.  Lumut ini dapat digunakan sebagai obat hepatitis (radang hati) (Setyawan,2001).
Menurut Campbell (2004), Lumut hati berbentuk lembaran (talus), rizoidnya tidak bercabang terdapat di bawah tangkai atau lembarannya. Letak antheridium dan archegonium terpisah. Pada umumnya lumut hati mudah ditemukan pada tebing-tebing yang basah. Contoh lumut ini antara lain Ricciocarpus sp. dan Marchantia sp.
Menurut Aryanto (200) secara morfologi Merchantia sp  tumbuh menempel di atas permukaan tanah, pohon atau tebing yang lembab. Memiliki arkegoniofor sebagai penunjang untuk arkegonium, memiliki thallus berupa lembaran-lemabaran jaringan yang permukaan atasnya berbeda dengan permukaan bawahnya, permukaan atasnya memiliki struktur modular yang membentuk sel komples yang berfungsi fotosintesis. Sedangkan secara anatomi, spesies ini memiliki kulit batang sphagnum yang terdiri atas selapis sel yang telah mati. Jaringan sel kulitnya bersifat seperti spon. Dinding yang membujur dan melintang memiliki liang yang bulat. Memiliki spora sebagai alat perkembangbiakan.
.                 Perkembangan lumut secara singkat berlangsung sebagai berikut: spora yang kecil dan haploid, berkecambah menjadi suatu protalium yang pada lumut dinamakan protonema. Protonema pada lumut ada yang menjadi besar, adapula yang tetap kecil. Pada protoneme ini terdapat kuncup-kuncup yang tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan lumutnya. Manfaat atau peran lumut ini adalah sebagai komponen pembentuk lahan gambut, sebagai bahan bakar dan dapat berperan sebagai perhiasan dekorasi sera sebagai obat hepatitis (Campbell, 2000).
Habitat spesies ini berada di tempat yang sedikit terdapat sinar matahari dan pada daerah yang lembab. Sesuai dengan lokasi pengambilan spesies ini di lokasi KKL. Edawua (2011)  menyatakan bahwa karena Taman Hutan Raya R.Soeryo merupakan hutan yang Topografi secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut. Taman Hutan Raya R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500- 4.500 mm per tahun dengan suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Di lokasi Taman Hutan Raya R.Soeryo juga memiliki kolam air panas dengan suhu 30ºC - 40ºC. Sehingga sesuai dengan habitat yang dibutuhkan tumbuhan Lumut.
4.2 Crustose
4.2.1 Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Gambar Pengamatan
Sumber: Nature,2013







4.2.2 Pembahasan
            Klasifikasi spesies adalah sebagai berikut
Kingdom : Fungi
Divisi:Lichenes
Kelas : Ascolichenes
Ordo:Graphidales
Family: Graphidaceae
Genus:Graphis
 Spesies : Graphis sp
Berdasarkan pengamatan yang telah di lakukan dalam kuliah kerja lapangan yang dilaksanakan di cangar, Batu, Malang. Praktikan menemukan lichen yang bulat,  berwarna putih keabu-abuan dengan thallus yang menempel seluruhnya pada substratnya. Lichen ini memiliki rhizoid yang menempel seluruhnya pada substrat yang di tempatinya.  Oleh karena itu lichen berjenis ini  di golongkan dalam lichen crustose. Dimana lichen ini susah dilepas dari substratnya, jika memaksa untuk di pisahkan dengan substratnya itu kemungkinan sedikit untuk tidak merusak substratnya.
Secara morfologi, spesies dari jenis Crustose memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis, dan selalu melekat ke permukaan batu, kulit pohon, atau pada permukaan tanah. Jenis lichens crustose ini susah di cabut tanpa merusak substratnya. Berwarna hijau ke abu-abuan namun ada pula yang berwarna kuning kecoklatan. Sedangkan secara anatomi pada bagian anatomi tampak 2 lapisan yaitu lapisan alga dan jamur. Graphis sp memiliki thallus tipe crustose yang tumbuh terbenam pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik atau endoplodal.
Reproduksi liken tidak dapat dilakukan secara seksual (generative). Liken hanya bereproduksi secara aseksual (Vegetatif) melaui fragmentasi. Pada proses reproduksi tersebut liken melepas fragmen-fragmen kecil yang disebut soredia. Soredia adalh unit reproduksi berupa sel ganggang yang terbungkus dengan hifa jamur. Selanjutnya, soredia (tunggal=soredium) tersebut tersebar dan dapat tumbuh membentuk talus yang baru pada tempat yang sesuai (Kimball, 1999).
Spesies ini dapat hidup melekat pada pohon atau batang kayu yang sudah mati. Biasanya di daerah pegunungan yang berhawa dingin atau suhu rendah salah satunya adalah di kawasan Taman Hutan Raya R.Soeryo di Daerah Cangar Batu. Edawua (2011)  karena Taman Hutan Raya R.Soeryo merupakan hutan yang Topografi secara keseluruhan memiliki konfigurasi bervariasi antara datar, berbukit dan gunung-gunung dengan ketinggian antara 1.000-3.000 meter diatas permukaan laut. Taman Hutan Raya R.Soeryo termasuk tipe C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500- 4.500 mm per tahun dengan suhu udara berkisar antara 5ºC-10ºC. Di lokasi Taman Hutan Raya R.Soeryo juga memiliki kolam air panas dengan suhu 30ºC - 40ºC. Sehingga sesuai dengan habitat yang dibutuhkan tumbuhan Lichen.
Graphis sp memiliki distribusi yang luar biasa luas dan banyak ditemukan diseluruh amerika serikat dan eropa. Meskipun kurang umum dari pada 50 tahun lalu karena seperti banyak lumut, sangat sensitive terhadap polusi udara.
4.3 Polyporus sp
      4.3.1 Hasil Pengamatan
Gambar Literatur
Gambar Pengamatan
Sumber: Fobi, 2013




Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Agaricomycetes
Order : Polyporales
Family : Polyporaceae
Genus : Polyporus
Species : Polyporus sp
            Jamur Polyporus sp memiliki tudung dengan diameter kurang lebih 2-4 cm, terdapat garis-garis konsentris, dan berwarna kecoklatan. Tubuh buahnya kaku, berbentuk seperti lingkaran cekung, dengan stipe yang berukuran 1-5 cm. Spesies ini ditemukan pada kayu lapuk yang teksturnya keras dan hidupnya soliter.
Hasil identifikasi ini sesuai dengan penelitian yang telah di laksanakan oleh Tampubolon, (2010) yaitu diameter tudung 1,5 – 7 cm, bentuk lingkaran atau ginjal awalnya cembung., dan berubah menjadi cekung seperti vas bunga,permukaan licin dan bergarisgaris, warna coklat muda hingga kuning tua. Tubuh buah keras, warna putih hingga coklat kemerahan. Panjang tangkai 0,5 – 5 cm, central atau lateral. Spora berukuran 6,5-10 x 2,5-4 mikron, putih, silindris, licin. Edibilitas : tidak edibel. Habitat : soliter atau beberapa pada kayu keras lapuk.
Tjitrosoepomo (2011) menambahkan bahwa suku Polyporaceae memiliki tubuh buah berupa suatu kipas, himenofora merupakan buluh-buluh (pori) yang dilihat dari luar berupa lubang-lubang. Sisi dalam lubang-lubang itu dilapisi hymenium. Tubuh buah jamur ini dapat berumur beberapa tahun dengan tiap-tiap kali mementuk lapisan-lapisan himenofora baru. Sebagian hidup sebagai saprofit.
Polyporus sp merupakan spesies dari Kelas Basidiomycota yang memiliki reproduksi secara vegetatif dan generatif. Menurut Tjitrosoepomo (2011), secara vegetative, basidiospora denagn jenis kelamin berbeda akan menghasilkan miselium dengan jenis kelamin yang berbeda pula. Miselium hasil perkecambahan spora ini bersekat-sekat, membentuk sel-sel vegetative yang masing-masing hanya berisi satu spora (uninukleat). Apabila dua sel vegatatif yang berlainan jenis bertemu, maka keduanya menyatu, diikuti fusi sitoplasma (somatogami), sehingga terbentuk satu sel berisi sepasang nukleus (dikaryotik).
Sedangkan secara generative, tubuh buah Basidiomycetes dibentuk oleh hifa-hifa dikaryotik. Hifa ini membentuk lapisan hymenium (lapisan pembentuk spora) yang susunannya seperti jaringan palisade. Sel di ujung hifa yang akan membentuk basidium membesar membentuk gada. Lalu sepasang nukleus di dalamnya bersatu, diikuti pembelahan meiosis, sehingga terbentuk empat nukleus haploid dan dua-duanya mempunyai jenis kelamin yang berlawanan. Sementara itu pada ujung basidium terjadi 4 penonjolan yang disebut sterigma dengan ujung bulat , yang akan menjadi basidiospora. Tiap inti yang haploid tadi lalu masuk ke dalam calon basidiospora melalui sterigma (Tjitrosoepomo. 2011).
           




BAB V
PENUTUP
5.1    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Salah satu spesies lumut yang ditemukan di kawasan Taman Hutan Raya R.Soeryo adalah dari kelas Hepaticopsida yaitu Marchantia sp
2.      Salah satu spesies lichen yang ditemukan di kawasanTaman Hutan Raya R.Soeryo adalah dari jenis Crustose yaitu Graphis sp
3.      Salah satu spesies jamur yang ditemukan di kawasan Taman Hutan Raya R.Soeryo adalah dari kelas Basidiomycota yaitu jamur kayu spesies Polyporus sp
5.2    Saran
Sebaiknya untuk Kuliah Kerja Lapangan selanjutnya lebih diperjelas mekanismenya dan ada pembagian setiap asisten mendampingi berapa kelompok. Sehingga pada saat menemukan spesies dapat bertanya langsung dan membantu mahasiswa saat perlu menanyakan sesuatu.





DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto. 2000. Biologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Birsyam, Inge. L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB
Campbell, Neil A. 2000. Campbell Edisi 5.Jakarta.PT Gelora Aksara Pratama
Ciremai. 2008. Biologi Laut. Jakarta: PT. Gramedia
Edawua, Nathania Ernita Ekawatia. 2011. Keanekaragaman Bryophyta Di Pemandian Air Panas Taman Hutan Raya R. Soeryo Cangar Jawa Timur. Universitas Airlangga
Hackle. 1999. Tumbuhan Paku. Bandung: CV. Duta Permana.
Heddy, Suwasono. 1990. Biologi Pertanian. Jakarta: Rajawali Pers
J Michael, Jr Pelczar 2008. Dasar-dasar mikrobiologi.jakarta.Universitas Indonesia
Karim, Murniah. 2007. Biologi. Makassar: UNM Press
Kimball, J. W. 1999. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Kukwa, Martin et all. 2012. Thirty Six Species Of The Lichen Genus Parmotrema (Lecanorales)
Lovelles. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerak Tropik 2. Jakarta: Gramedia.
Setyawan, A. D dan Sugiyarto. 2001. Keanekaragaman Flora Hutan Jobolarangan
Sulisetjono. 2011. Botani Tumbuhan Lumut. Malang: UIN press
Tampubolon, J. 2010. Inventarisasi Jamur Makroskopis di Kawasan Ekowisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Tesis Program Studi Magister Biologi FMIPA USU. USU Repository. Medan.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1983. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1983. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2011. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogyakarta: UGM Press.



Tjitrosoepomo, gembong.1989. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University

1 komentar: